
METRO — Rapat dengar pendapat (hearing) selama enam jam antara DPRD Kota Metro dan Wali Kota Bambang Iman Santoso justru berakhir tanpa kejelasan.
Alih-alih membuka tabir penggunaan pinjaman Rp20 miliar, pertemuan tertutup itu malah mempertegas satu hal: DPRD belum tahu apa-apa.
Ketua DPRD Ria Hartini secara terbuka mengakui bahwa hingga rapat usai, pihak legislatif belum menerima data rinci terkait pinjaman tersebut. Padahal, isu ini menjadi alasan utama pemanggilan wali kota.
Baca Juga
“Belum ada bahan yang kami terima. Kami masih menunggu dari Tim TAPD,” ujar Ria usai hearing, yang diwarnai jeda salat dan makan berulang kali.
Pernyataan itu memunculkan tanda tanya besar: bagaimana mungkin DPRD membahas pinjaman daerah tanpa dokumen dasar?
Lebih janggal lagi, Ria menyebut rapat yang berlangsung maraton itu hanya sebagai “silaturahmi”. Pernyataan tersebut terkesan meredam ketegangan, namun justru memperkuat kesan bahwa forum resmi pengawasan anggaran kehilangan taringnya.
Di sisi lain, klaim bahwa pinjaman Rp20 miliar tidak memerlukan persetujuan DPRD — sebagaimana disampaikan wali kota — berpotensi memicu polemik baru. Pasalnya, transparansi dan akuntabilitas tetap menjadi kewajiban, terlebih menyangkut utang daerah.
Fakta bahwa DPRD bahkan belum mengetahui peruntukan dana tersebut memperlihatkan adanya celah serius dalam komunikasi — atau lebih jauh, dalam tata kelola pemerintahan.
Sementara itu, Bambang Iman Santoso memilih irit bicara. Ia hanya menyatakan bahwa penjelasan teknis akan disampaikan oleh Tim TAPD melalui BKAD, tanpa memberikan kepastian waktu yang jelas.
“Hari ini kami sudah hadir bersama OPD. Secara teknis nanti dijelaskan TAPD,” ujarnya singkat.
Situasi ini memperkuat kesan tarik-ulur antara eksekutif dan legislatif. Di tengah sorotan dugaan minimnya transparansi, publik justru disuguhi rapat panjang tanpa hasil konkret.
Dengan janji DPRD akan memberikan tanggapan dalam dua hingga tiga hari ke depan, publik kini menunggu: apakah data benar-benar akan dibuka, atau polemik Rp20 miliar ini akan terus menjadi misteri yang dibiarkan menggantung? (Tim JMSI)



















