Rafieq Dinobatkan Sebagai Radin Panji Kerta Kusuma, Doa Menjadi Pembawa Kejayaan dan Kesejahteraan

Foto : SPDB Pangeran Edward Syah Pernong, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23 saat menyematkan gelar adat Kerajaan kepada Wakil Walikota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana dan Istrinya, Nidia Irine Sari. (Ist)

BATUBRAK – Suasana khidmat menyelimuti Lamban Gedung Dalom Kepaksian Pernong, Kabupaten Lampung Barat, Kamis (9/7/2026). Di tempat yang sarat nilai sejarah dan kebudayaan itu, Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, secara resmi menerima adok atau gelar adat Radin Panji Kerta Kusuma dari Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung.

Penyematan gelar dilakukan langsung oleh SPDB Pangeran Edward Syah Pernong, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23, Pemilik dan Penguasa Tertinggi Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong. Prosesi penabalan berlangsung penuh khidmat, disaksikan para tokoh adat, kepala daerah, dan tamu undangan yang memenuhi Gedung Dalom.

Baca Juga

Rafieq hadir didampingi sang istri, Nidia Irine Sari. Keduanya mengenakan pakaian adat Lampung dengan penuh kebanggaan, mengikuti setiap tahapan prosesi yang berlangsung sakral. Bagi masyarakat adat, penabalan gelar bukan sekadar seremoni, melainkan peristiwa penting yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu ikatan nilai dan tanggung jawab.

Dalam arahannya, Pangeran Edward Syah Pernong menegaskan bahwa gelar adat yang diberikan telah melalui pertimbangan mendalam. Menurutnya, setiap adok yang dianugerahkan mengandung amanah moral dan spiritual yang harus dijaga penerimanya sepanjang hayat.

“Jadi saya berharap dapat banyak memberikan kebermanfaatan kepada masyarakat dan memberikan sinar cahaya kebaikan kepada masyarakat, khususnya kepada bangsa dan negara,” ujar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23.

Edward Syah Pernong juga menyampaikan pesan persatuan yang menyentuh. Ia menekankan bahwa adat Lampung tidak dibangun atas sekat-sekat kesukuan, melainkan atas rasa cinta dan kebersamaan seluruh masyarakat yang hidup di Bumi Ruwa Jurai.

“Ini adalah cara Tuhan untuk mengakrabkan silaturahmi kita semua pada hari ini. Orang Lampung itu bukan hanya suku Lampung, tetapi siapapun yang tinggal di Lampung adalah orang Lampung. Jadi harus mencintai Lampung, mencintai masyarakat, dan mencintai budaya Lampung. Manusia itu diciptakan hidup untuk saling mencintai dan menyayangi,” katanya.

Gelar Radin Panji Kerta Kusuma yang disematkan kepada Rafieq bukanlah gelar biasa. Dalam makna filosofisnya, gelar tersebut mengandung doa dan harapan agar pemiliknya menjadi pembawa panji kejayaan, sosok pemimpin yang mampu menghadirkan kesejahteraan, keselamatan, serta memiliki nama harum yang dihormati dan dikenang oleh masyarakat.

Sementara itu, sang istri, Nidia Irine Sari, menerima adok Minak Ria Itton Kusuma. Gelar tersebut melambangkan perempuan yang mulia, terhormat, dan indah laksana permata serta bunga yang mekar. Di balik makna itu, tersimpan harapan agar dirinya menjadi pendamping yang menjaga kehormatan keluarga, menguatkan nilai-nilai adat, serta menebarkan kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.

Edward Syah Pernong juga mengungkapkan bahwa penganugerahan gelar kepada Rafieq dan istrinya memiliki landasan historis dan genealogis yang kuat. Rafieq diketahui merupakan keturunan ulama besar KH. Arief Mahya dan memiliki hubungan kekerabatan Angkonan Muakhi dengan Pangeran Haji Suhaimi bergelar Sultan Lela Muda.

Selain faktor silsilah, Kerajaan Adat Sekala Brak juga menilai Rafieq sebagai figur yang menunjukkan kesetiaan, pengabdian, kejujuran, kedisiplinan, kecakapan, serta istiqamah dalam menjaga hubungan baik dengan masyarakat adat dan menjunjung tinggi kehormatan Gedung Dalom Kepaksian Pernong.

Bagi masyarakat Lampung, prosesi penabalan ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pemberian gelar kehormatan. Momen tersebut menjadi simbol bahwa modernitas dan tradisi dapat berjalan berdampingan. Seorang pemimpin daerah tidak hanya dituntut cakap dalam administrasi pemerintahan, tetapi juga diharapkan mampu menjaga akar budaya dan memperkuat identitas daerahnya.

Bagi Rafieq sendiri, gelar Radin Panji Kerta Kusuma menjadi pengingat bahwa jabatan dan penghormatan sejatinya adalah amanah. Di balik setiap adok yang disematkan, tersimpan harapan masyarakat agar seorang pemimpin hadir membawa kemaslahatan, menjadi cahaya bagi sesama, serta menjaga persatuan dalam keberagaman.

“Saya meyakini bahwa setiap penghormatan selalu diikuti tanggung jawab. Adok ini akan menjadi pengingat bagi saya untuk tetap rendah hati, menjaga nilai-nilai budaya, dan bekerja lebih sungguh-sungguh demi kesejahteraan masyarakat. Saya percaya, seorang pemimpin akan dikenang bukan karena gelarnya, melainkan karena seberapa besar manfaat yang dapat ia hadirkan bagi masyarakat dan daerah yang dicintainya,” tandas Rafieq.

Di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, penabalan adat di Gedung Dalom Kepaksian Pernong seolah mengirim pesan kuat kepada generasi muda Lampung, bahwa kemajuan tidak harus menghapus tradisi. Justru dari akar budaya yang kokoh itulah lahir pemimpin-pemimpin yang memahami jati dirinya, mencintai tanah kelahirannya, dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk masyarakat, daerah, bangsa, dan negara. (Red)

Redaksi: Sonny

 

LAINNYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *